Pada beberapa artikel terdahulu saya pernah katakan bahwa masjid Lautze Jakarta memiliki seribu keunikan. Pada malam minggu kemarin saya menemukan tiga keunikan baru dari masjid yang berada di kawasan pecinan Pasar Baru. Keunikan itu dalam melakukan aktifitas ibadah solat tarawih berjamaah. Mari kita simak keunikan apa saja yang terjadi.

Kedatangan saya petang itu (Sabtu, 11/06/’16) di masjid Lautze tepat ketika para jamaah masjid tersebut melakukan salam kanan-kiri solat magrib. Solat magrib berjamaah berakhir. Saya segera berwudlu kemudian melakukan solat magrib dengan makmum dua bocah kecil berkulit hitam seperti saya.

Usai solat magrib , dzikir dan doa singkat, saya segera menyapa beberapa jamaah yang sudah sangat saya kenal termasuk salah satu ustadz di masjid itu, Suhaemi. Ustadz Suhaemi mempersilahkan saya naik ke lantai empat untuk melakukan bukbar – buka bareng. Saya menuruti permintaan tersebut. Ditangga menuju lantai empat jamaah berjubel antri, jamaah didominasi para ibu-ibu.

Tiba di lantai empat saya hanya berdiri menyaksikan para ibu-ibu yang prasmanan mengambil makanan dan juga menyaksikan pembagian nasi berlauk-pauk dalam kemasan. Setelah puas beberapa saat menyaksikan kesibukan buka bareng, saya turun kembali sambil menyapa dan menyalami beberapa jamaah laki-laki yang sudah saya kenal .

Sampai di lantai dasar saya langsung menuju keluar di halaman masjid dan duduk dibangku kedai bakmie Ahuy. Kemudian saya berbuka puasa dengan melahap bakmie yang sudah saya pesan sebelumnya. Tak seberapa lama duduk dua wanita dihadapan saya. Tanpa basa-basi kami mengobrol soal kegiatan ramadlan di masjid Lautze. Satu wanita putih nan cantik mungil menceritakan kepada saya bahwa satu jam sebelum adzan magrib tadi ada prosesi satu mualaf wanita. Saya katakan pada wanita putih itu, bagi masjid Lautze prosesi pengislaman semacam itu adalah sesuatu yang tak aneh karena begitu banyaknya mualaf dilahirkan dari masjid ini khususnya mereka dari etnis Tionghoa.

LZ2Usai iqomah dilanjutkan solat isya berjamaah dan kemudian solat rawatib. Sebelum dimulai solat tarawih berjamaah, Ko Ali Karim, Ketua Yayasan Haji Karim Oei – YHKO, berdiri di mimbar dan mengumumkan bahwa solat tarawih berjamah di masjid Lautze hanya dilakukan pada setiap hari Sabtu malam saja. Poin berikut yang disampikan Ko Ali adalah pelaksanaan solat tarawih di masjid Lautze ini akan unik atau berbeda dengan masjid-masjid lain. Maksud perbedaan dalam melakukan solat tarawih adalah akan ada lima imam secara bergantian. Setiap 2 rokaat akan dipimpin imam yang berbeda. Imam A akan memimpin di dua rokaat pertama, di dua rokaat berikutnya ganti imam B, dan seterusnya. Dengan kata lain, lima orang bergilir mencicipi jadi imam termasuk satu imam untuk solat witir. Jumlah rokaat solat tarawih yang dilaksanakan di masjid Lautze adalah 11.

Ko Ali menyampaikan bahwa adanya imam A, B, C, D dan E adalah sebagai bentuk penghormatan kepada para mualaf sekaligus pembelajaran bagi mereka dan bagi kita semua agar selalu siap dan mampu untuk menjadi imam solat baik di rumah atau di masjid manapun, jika ditunjuk. “Imam adalah pemimpin. Bukankah setiap muslim laki-laki harus mampu menjadi pemimpin?”, tambah Ko Ali menutup uraiannya diatas mimbar.

Menurut pemikiran saya saat itu juga bahwa pergantian imam setiap 2 rokaat solat tarawih di lingkungan para mualaf sangat bermanfaat. Manfaat itu termasuk seperti yang disampaikan Ko Ali diatas yakni dapat memberikan pembelajaran buat kita semua. Manfaat lain secara umum dapat digolongkan dalam beberapa aspek sebagaimana termaktub dibawah ini.

Aspek edukatif. Menumbuhkan rasa leadership sekaligus mengingatkan bahwa setiap pemimpin memiliki tanggung jawab baik secara horisontal maupun vertikal. Makmum yang merasa memiliki kemampuan lebih dari imam yang ditunjuk harus ikhlas dan sabar serta selalu taat dalam posisi sebagai makmum solat. Memberikan motivasi bagi muslim mualaf agar mampu menjadi imam solat.

Aspek psikologis. Menumbuhkan rasa percaya diri khususnya kepada para mualaf yang menjadi imam bahwa dalam keseharian Islam adalah rahmatan lil’alamin bagi semua umat manusia tanpa memandang etnis ataupun lainnya.

Aspek sosial. Memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada siapa yang membutuhkan sekaligus mempertajam proses asimilasi.

Alasan manfaat dari aspek-aspek diatas adalah pendapat saya dalam satu sisi, disatu sisi lain yang saya ingat saat itu juga adalah syarat-syarat seseorang untuk menjadi imam solat berjamaah. Yang saya ingat, persyaratan untuk menjadi imam solat berjamaah adalah:

  • Lebih banyak tahu / mengerti dan paham masalah ibadah solat.
  • Lebih banyak hafal surat-surat Alquran.
  • Lebih fasih dan baik dalam membaca bacaan solat.
  • Lebih senior / tua daripada jamaah lainnya.
  • dll

Saat menjelang pelaksanaan solat tarawih berjamaah dimalam itu saya sempat sejenak membandingkan antara manfaat dari aspek edukatif, psikologis dan sosial dengan persyaratan-persyaratan seseorang untuk dapat menjadi imam solat berjamaah. Kesimpulan perbandingan itu saya putuskan untuk memilih keuntungan dari aspek edukatif, psikologis dan sosial. LZ1Pemilihan imam solat tarawih ala masjid Lautze ini menginspirasi untuk melatih anak-anak saya sendiri agar segera belajar mampu menjadi seorang imam solat dimanapun, jika ditunjuk.

Sekitar jam 20.10 Wib solat tarawih berjamaah usai disambung dengan share dari salah satu mualaf terkait dengan riwayat keislamannya dimana penyampaiannya dilakukan diatas mimbar.

Para pembaca yang budiman, malam ini saya simpulkan ada tiga keunikan baru yang saya temukan dari masjid Lautze Jakarta, yakni:

  • Solat tarawih terdiri dari 5 imam bergantian.
  • Para (lima) imam itu semuanya mualaf.
  • Pelaksanaan solat tarawih berjamaah hanya dilaksanakan di malam minggu saja.

Saya sepertinya suatu saat harus kembali lagi datang ke masjid Lautze ini, saya yakin akan ada keunikan lain yang akan saya temukan. Insya Allah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.