gayung helemSebetulnya judul diatas hanyalah penyerupaan terhadap pribahasa yang kita miliki, tak ada rotan akar pun jadi. Kita tahu pribahasa itu kurang lebih bermakna jika tak ada yang baik maka yang kurang baikpun dapat dilakukan. Gambar disamping memperlihatkan pada kita bahwa helem sebagai atribut pekerja proyek namun digunakan sebagai fungsi gayung.

Jika kita amati penyerupaan pribahasa diatas yakni ‘tak ada gayung helem pun jadi’ seakan kita digiring atau dipaksa kedalam situasi darurat (emergency situation, adh-dharurot). Keadaan darurat menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan dimana keadaan sukar (sulit) yang tidak tersangka-sangka (dalam bahaya, kelaparan, dan sebagainya) yang memerlukan penanggulangan segera.

Dari definisi ‘keadaan darurat’ KBBI diatas dapat dikatakan bahwa sifat keadaan darurat adalah kejadiannya tidak berulang-ulang atau hanya sekali terjadi dalam rentang waktu yang sangat (begitu) lama, tidak ada sedikitpun unsur disengaja, tidak terprediksi sebelumnya (unpredictable), dan memerlukan tindakan penanggulangan secepatnya.

Helem bukan gayung, namun dapat difungsikan sebagai gayung. Saat tak ada gayung maka dipakailah yang ada, helem. Kenapa tidak ada gayung? Bisa mungkin karena tidak menduga akan membutuhkan gayung, sudah tahu akan perlu gayung namun belum sempat membelinya, atau sengaja tidak perlu membelinya untuk alasan berhemat. Maka terjadilah fungsi gayung digantikan oleh helem untuk sementara waktu. Berapa lamakah ‘sementara waktu’ itu?

Sekarang, apakah penggunaan helem proyek diatas yang dialihfungsikan sebagai gayung merupakan betul-betul sebuah keadaan darurat?




Tak ada gayung helempun jadi, tak ada tissue koranpun jadi, tak ada nasi mie instanpun jadi, adalah contoh-contoh penyerupaan terhadap pribahasa ‘tak ada rotan akarpun jadi’. Penyerupaan yang semakna dengan pribahasa ‘tak ada rotan akarpun jadi’ sering kita dengar dalam keseharian kita, baik diucapkan orang lain maupun oleh kita sendiri. Penyerupaan itu seolah-olah atau secara nyata membawa kita kedalam situasi mendesak, yang perlu diingat, sudahkah situasi mendesak itu memasuki area yang betul-betul dapat dikatakan sebagai situasi darurat? Ada kaidah fikih yang berbunyi: Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat, artinya “dalam kondisi darurat, hal-hal yang terlarang dibolehkan”. Seberapa besarkah usaha kita mencegah keadaan darurat yang akan terjadi?***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.