tant1Kita sering mendengar sebaris kalimat “Hidup adalah pilihan”, terus ada lagi kalimat “Setiap pilihan pasti ada resikonya, tapi pilihlah resiko yang paling kecil”. Ada satu lagi, “Hidup adalah tantangan”.

Dalam kehidupan ini kita dituntut memilih dari sekian pilihan yang ada, pilihan yang ada selalu memiliki resiko, pilihan yang ber-resiko terkecil tentunya yang akan kita pilih. Kita harus memilih salah satu diantara yang ada dan kita harus berani menghadapi segala resikonya sebab hidup adalah tantangan.

Kita ingin memilih jurusan studi, fakultas, universitas, dan kota dalam dinamika dunia pendidikan pasti dibenturkan pilihan-pilihan yang selalu memiliki nilai kurang dan lebih. Seperti itulah yang terjadi dalam dunia proyek konstruksi. Tak berbeda namun tak sama.

Proyek konstruksi pasti akan dituntut memenuhi target waktu (schedule & progress), quality, keselamatan kerja (zero accident), dan layak biaya (cost efficiency). Dalam kata lain tim proyek  konstruksi memiliki “an one-shot” untuk memenuhi target waktu, kualitas, keselamatan kerja (K3LL), dan biaya. Inilah tantangan dunia proyek konstruksi.

Untuk menjawab tantangan tersebut maka tim proyek konstruksi akan membuat perencanaan yang baik (well planned) untuk menyelesaikan “tantangan demi tantangan” tersebut. Bagian dari perencanaan yang baik adalah perencanaan eksekusi proyek misal dipilihnya motode konstruksi (construction method) yang tepat.

Mengejar “one-shot” maka akan timbul akselerasi pekerjaan, hal ini akan menimbulkan resiko kelelahan pekerja meningkat. Salah satu langkah mengurangi kelelahan pekerja adalah dengan dilakukannya kerja bergilir (shift) dan penambahan jumlah pekerja. Sistem kerja shift dan penambahan jumlah pekerja akan berdampak pada aspek keselamatan kerja dan biaya.

Akselerasi penyelesaian pekerjaan dan penambahan jumlah pekerja akan berbenturan pada keharusan menyelesaikan beberapa pekerjaan berbahaya dalam satu waktu dan lokasi yang bersamaan (simultaneous activities). Contoh simultaneous activities adalah, bisa saja pekerjaan penggalian (excavation/under ground works) tetap dilakukan yang tepat berada dibawah pekerjaan sekitar above ground, diatasnya lagi ada pekerjaan di ketinggian tertentu (working at height). Simultaneous work sangat berpotensi terjadinya kecelakaan kerja seperti kejatuhan benda, terjatuh, tergencet, kerusakan material atau kombinasi dari semua itu dan lain-lain. Semua itu adalah gambaran umum tantangan pada sebuah eksekusi pekerjaan proyek konstruksi. Tantangan yang beresiko terjadinya kecelakaan kerja dan kerusakan material.

tant2Kecelakaan kerja dan kerusakan material dapat beresiko dilakukannya pengulangan sebuah pekerjaan (re-work) dan kehilangan waktu dalam pencapaian target proyek (lost time atau delay). Semua itu berdampak pada beban biaya proyek (cost).

Melihat tantangan-tantangan tersebut dunia proyek konstruksi menetapkan dan melakukan langkah-langkah kerja yang diatur dalam sebuah dokumen kerja. Dokumen kerja yang ditetapkan itu berisi instruksi kerja atau work instruction atau bisa kita sebut juga sebagai prosedur kerja. Pada proyek konstruksi apalagi dengan scope of work EPC (engineering, procurement, construction) akan memiliki ratusan prosedur. Semua aktifitas hanya boleh dilakukan dengan memenuhi prosedur-prosedur yang telah ditetapkan. Bagaimana para pekerja agar mengetahui prosedur kerja untuk pekerjaan yang akan dikerjakannya? Itupun tantangan tersendiri bagi tim proyek konstruksi.

Garis besar sebuah prosedur kerja secara umum berisi langkah-langkah melakukan pekerjaan secara berurutan (work steps), apa (what) yang harus dikerjakan, siapa (who) yang mengerjakannya, kapan (when) dikerjakan dan bagaimana (how) mengerjakannya dengan memperhatikan quality dan keselamatan kerja dimana semuanya adalah bertujuan efisiensi biaya.*

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.