KetawaTertawa berasal dari kata dasar tawa. Definisi ‘tawa’ menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ungkapan rasa gembira, senang, geli, dan sebagainya dengan mengeluarkan suara (pelan, sedang, keras) melalui alat ucap. Sedangkan ‘tertawa’ adalah melahirkan rasa gembira, senang, geli, dan sebagainya dengan suara berderai.

Kita mengenal beragam jenis tertawa, antara lain ada jenis tertawa yang tertahan, tertawa terbahak-bahak, tertawa kecil / tersenyum, tertawa pahit / tertawa sinis / tertawa kecil karena kurang suka; tertawa terkekeh-kekeh / tertawa dengan suara terpingkal-pingkal.

Tertawa itu milik siapa saja yang bisa tertawa seperti manusia, hewan primata (kera, orangutan, gorilla, simpanse dan sebangsanya). Menurut Jaak Panskepp, seorang psikolog dan ahli syaraf Washington State University di Pullman, manyatakan bahwa tikuspun dapat tertawa saat digelitik. Tikus ini saat digelitik menimbulkan suara kicau, suara yang berada diatas jangkauan pendengaran manusia menurut penilitian yang diterbitkan jurnal PLOS ONE di tahun 2000. Bagaimanakah dengan hewan-hewan mamalia seperti kuda, kambing, kerbau dan lain-lain, mereka juga sesekali menampakkan gigi-giginya seperti sedang ‘nyengir’. Sedang tertawakah mereka?

Tertawa banyak ragam penyebabnya. Tertawa dapat menjadikan kita sehat sebab tertawa bisa lebih dahsyat dari sekedar obat. Tertawa bisa merangsang hormon endorfin, hormon ini adalah obat alami yang dihasilkan oleh otak manusia.

Jadi, tertawa itu sehat. Orang-orang terdahulu banyak yang berumur panjang hingga ratusan tahun. Apakah orang-orang terdahulu sering tertawa hingga mereka berumur panjang?

Mari kita lihat peninggalan pribahasa zaman orang-orang terdahulu kita yang menggunakan kata ‘tertawa’. Kita mengenal pribahasa ‘Dibujuk ia menangis, ditendang ia tertawa’ (maknanya, mau bekerja dengan baik kalau sudah mendapat teguran). Atau pribahasa tua lainnya yaitu ‘Bergalah ke hilir tertawa buaya, bersuluh di bulan terang tertawa harimau’ (maknanya, orang berwawasan sempit namun menggurui orang-orang yang berilmu hingga akhirnya ditertawakan). Penggunaan kata ‘tertawa’ oleh para pendahulu kita ini menunjukkan mereka itu mengenal aktifitas tertawa. Sekali lagi, seberapa seringkah mereka tertawa sehingga berumur panjang?

Berumur panjang kurang tepat jika dikatakan karena sering tertawa di bibir/mulut, yang benar karena senantiasa tertawa dalam hatinya alias bahagia. Bahagia hati karena ia kaya hati. Kaya hati karena ia berilmu. Orang berilmu selalu dekat dengan yang Maha Berilmu.

Tertawa dihati alias kaya hati jumlahnya harus sebanyak-banyaknya sedangkan tertawa di mulut harus berbatas. Menurut sabda Muhammad SAW: Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.