Mendidik dan Menanamkan Rasa Peduli

tiome2Penanaman bebungaan di taman lingkungan sekolah tidaklah semulus dengan yang direncanakan apalagi dalam pemeliharaannya. Awalnya, guru ada yang enggan, malas, atau lupa menyiram dan lain-lain. Belum lagi tangan-tangan jahil dari para murid yang seenaknya memetik bunga dan cenderung merusak. Memang tidak mudah dalam membangun komitmen, konsisten dalam pelaksanaannya dan konsekwen menerima tanggungjawabnya.

Baik ke para guru maupun para murid, ibu Kepala Sekolah ini menggunakan cara yang sangat halus saat menegur hal-hal yang tidak berkenan baginya terkait dengan merintis taman sekolah. Ia dari hari kehari tak lelah-lelahnya menggunakan kalimat-kalimat ajakan bersama dirinya untuk sama-sama melakukan sesuatu terhadap taman sekolah. Misal melihat tanaman yang layu yang ada disebelah seorang guru maka iapun setengah berbisik, “Kasian banget bunga ini, mari kita siram sama-sama yuk….”.

“Jika melihat bunga sedang mekar saya sangat senang, tapi jika ada yang memetiknya maka saya harus cari sampai ketemu siapa yang telah memetiknya”, begitulah kerasnya ibu Kepala Sekolah ini. Dibalik itu ia akan lemah-lembut, misal, yang telah memetik bunga yang sedang mekar itu ternyata adalah sang anak didiknya. Ibu Tiome akan mengajak anak didiknya itu ketempat bunga yang telah dipetik anak tersebut, “Aduhh…, kasian lho kalo bunga ini dipetik, ia dipaksa patah. Bagaimana rasanya jika tangan kita yang dipaksa patah?”.

Bagaimana dengan tempat sampah depan sekolah? Ibu Tiome tak pandang bulu, iapun menegur secara halus baik kepada para pedagang depan sekolah maupun para masyarakat sekitar yang kerap membuang sampah di depan sekolah. Dengan cara pendekatan yang sama meski sempat ‘mengadakan perlawanan’ akhirnya bisa dipahami maksud dari ibu Tiome oleh para pedagang maupun masyarakat sekitar. Area pembuangan sampah akhirnya dapat berubah menjadi taman, sedangkan area pembuangan sampah berpindah ke area yang dianggap lebih layak.

Butuh perjuangan ekstra ditahun pertama masa kepemimpinannya, menurut ibu Tiome satu tahun pertama adalah ‘1 tahun yang sakit’, terutama untuk merubah area sampah depan sekolah menjadi taman hijau nan indah. Tahun-tahun berikutnya dapat dijalaninya dengan lebih mudah. Lebih mudah karena para guru telah solid dalam visi dan misi.

Menanamkan rasa peduli tidak hanya dilakukan kepada guru dan para murid namun ke seluruh internal warga sekolah termasuk penjaga sekolah (satpam). Penjaga sekolah inilah yang diberi tugas untuk membuat mural di dinding sekolah, tentu dengan gambar-gambar yang sesuai dengan dunia pendidikan. Para guru termasuk ibu Tiome sendiri pun tak segan turut mengerjakan mural itu disaat-saat diperlukan. Selain mural, slogan-slogan yang ada di SDN 43 Parepare ini semuanya dikerjakan sendiri oleh warga sekolah ini.

Ibarat pepatah ‘guru kencing berdiri murid kencing berlari’, karena solidnya para guru dalam berkomitmen maka para anak didik dan para orang tua murid akhirnya tertanam rasa peduli terhadap taman, kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah. Sekarang telah menjadi kebiasaan para murid dan guru dimana setiap pagi dilakukan bersih-bersih sebelum masuk kelas, begitupun saat setelah jam pulang sekolah semua warga sekolah memungut sampah secara sukarela dan menaruhnya kedalam tempat sampah yag telah tersedia.

Kegigihan dan tiada sekalipun berkompromi dengan lelah  pada akhirnya ‘rasa kepedulian terhadap lingkungan sekolah’ dapat tumbuh dalam hati seluruh warga sekolah dibawah pimpinan ibu Tiome. “Tidak bukan hanya karena saya, tapi juga semua guru terlibat disini, begitupun seluruh warga sekolah ini”, ibu Kepala Sekolah ini merendah saat disebut keberhasilannya membuat taman sekolah yang asri, hijau dan nyaman bahkan bisa meraih penghargaan adiwiyata mandiri.

Hingga kini SDN 43 Parepare tidak memiliki seorangpun tenaga cleaning service, dan ini adalah bukan masalah, sebab kebersihan dan keindahan sekolah telah tertanam menjadi tanggung jawab bersama sekaligus menjadi tanggung jawab masing-masing warga di sekolah!video sd 43

Pembinaan Ke Sekolah Lain

Mengingat program penghijauan taman sekolah sudah menampakkan hasil dan diakui secara formal di tingkat kabupaten Parepare dan provinsi Sulawesi Selatan, maka atas permintaan sekolah lain yang dikuatkan oleh surat dari Dinas terkait setempat para guru SDN 43 melakukan pembinaan pembudayaan penghijauan di lingkungan sekolah-sekolah yang berada di Kabupaten Parepare.

Bukanlah merupakan beban sang Kepala Sekolah dan para guru SDN 43 ketika diminta untuk melayani pembinaan pembudayaan penghijauan di lingkungan sekolah-sekolah yang berada di Kabupaten Parepare, justru sebaliknya mereka tertantang dan sangat menyukainya. Penjadwalan yang matang guna melakukan pembinaan pembudayaan penghijauan di lingkungan sekolah-sekolah dijalankan secara baik dengan salah satu pertimbangannya yakni tidak mengganggu jam ajar-mengajar dengan para siswa.

Pembinaan kelain sekolah dilakukan oleh para guru SDN 43 secara teratur sesuai jadwal, meski demikian para guru tersebut tetap konsisten & konsekwen merawat dan terus berkreasi terhadap taman sekolah di SDN 43 tersebut.

Apa kiat-kiat Ibu Tiome mencapai keberhasilan membangun taman sekolah dan membangun budaya peduli terhadap lingkungan sekolah?*

(Bersambung).

Baca: Tiome Siagian, Ibu Kepala Sekolah (Part-1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.