PenyemirSelagi tuan pemiliknya antri berwudlu maka sepatu-sepatu itu ia bersihkan. Peralatan yang ia bawa sederhana saja, yaitu lap kering dua lembar, semir sepatu hitam, coklat dan netral. Satu lagi, sikat sepatu.

Usianya tidaklah terlalu muda, dengan keahlian yang tidak seberapa yang ia punya ia ingin berkarya dan ingin dihargai. Setelah sepatu-sepatu itu ia bersihkan, lantas ia lap kering dan lalu ia semir hingga terlihat mengkilap.

Selama jamaah pemilik sepatu-sepatu itu sholat Jumat, ia pun sholat Jumat. Sepatu-sepatu itu tak jauh darinya dan aman. Ketika para jamaah pemilik sepatu-sepatu mengambil miliknya masing-masing, ia pun menerima upah seikhlas yang memberinya. Rata-rata perpasang sepatu para tuannya memberi sepuluh ribu, kalikan saja dengan jumlah sepatunya jika kita ingin menduga-duga berapa uang yang ia hasilkan dalam waktu kurang dari satu jam menyemir sepatu.

Para pemilik sepatu-sepatu berhamburan kembali di muka bumi ini tuk mengais rejeki, sang penyemir sepatu pun kembali ke tugas asalnya sebagai pelayan di sebuah kedai yang ada di sekitar masjid dan perkantoran itu.*

              

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.