kauskakiSiapakah yang sering menggunakan kaus kaki? Oo, yang sering menggunakan kaus kaki tentu mereka yang sering menggunakan sepatu. Kaus kaki dan sepatu merupakan dua benda yang boleh dibilang menyatu. Menyatu saat dipakai menyatu juga saat selesai pakai. Hanya saja nasib kaus kaki lebih sering di cuci ketimbang sepatu. Malah ada sepatu yang gak pernah dicuci sampai ‘akhir hayatnya’.

Semua pembaca hampir pasti memiliki kaus kaki, bahkan lebih dari satu pasang. Kenapa kita memiliki kaus kaki lebih dari satu pasang? Banyak alasan tentunya. Karena satu pasang tak cukup, alasan lain agar matching dengan warna sepatu atau rok atau baju atau gaun, dan masih banyak lagi alasan lain.

Kaus kaki yang kita miliki mungkin mulai dari yang harga duapuluh ribu dapat tiga pasang hingga yang seratus ribuan untuk sepasangnya, namun biar mahal kaus kaki tetap saja dipakainya di kaki. Kaus kaki sebenarnya tergolong ‘pakaian dalam’ tapi separuh, alias separuh ‘pakaian dalam’. Kalau pakaian dalam jika kita pakai maka semuanya tertutup oleh pakaian luar kita, ini berbeda dengan kaus kaki. Kaus kaki jika kita pakai maka sebagian tertutup didalam sepatu sedangkan sebagian lagi masih bisa terlihat meski terkadang tertutup juga oleh celana panjang atau gaun panjang yang kita pakai. Toh, meski tertutup celana panjang atau gaun panjang namun tetap saja kaus kaki masih bisa terlihat.

Meski kaus kaki saat kita pakai sebagian tertutup sepatu dan sebagian lagi tertutup celana/gaun panjang namun bukan berarti kita seenaknya menggunakan kaus kaki. Pernahkah kita mengalami (sangat) terganggu oleh ‘performa’ kaus kaki yang kita pakai atau yang dipakai oleh teman atau orang lain? Pernahkah kita mengalami kebebasan kita terganggu oleh kondisi kaus kaki yang sedang kita pakai sendiri atau yang sedang dipakai orang lain?

Sangat mungkin jawaban atas pertanyaan diatas ‘ya’ kita pernah mengalaminya. Coba bayangkan jika kaus kaki yang kita pakai itu bau apek, bahkan baunya ‘minta ampun’. Mmh! Mungkin sebagian kecil dari kita masih bisa memaklumi, toh bau juga bau dari kaus kaki sendiri, tapi bayangkan jika yang mencium bau kaus kaki kita itu orang lain? Pastinya orang lain tersebut terganggu! Begitu juga sebaliknya.

Jika secara tiba-tiba hidung kita mencium bau kaus kaki orang lain yang baunya termasuk kriteria bau ‘minta ampun’ bisa jadi kita spontan tutup hidung. Malah bisa jadi lambung kita mual-mual, pernah ngalamin yang seperti itu?

Jadi kaus kaki yang bau apek atau yang tergolong baunya ‘minta ampun’ bisa menyebabkan kita tersiksa apabila bau apek itu berasal dari kaus kaki orang lain. Namun, bisa jadi kita pun tersiksa dan gak pede jika bau apek itu berasal dari kaus kaki yang kita pakai. Bener kan?!

Hal yang masih terkait kaus kaki dan bisa mempengaruhi ‘kebebasan’ kita dalam aktifitas keseharian adalah kondisi kaus kaki yang berlubang alias bolong, dimana bolongnya itu diluar disain kaus kaki itu sendiri. Bolong yang disebabkan karena rusak, itu maksud kata bolong yang dimaksud disini.

Bagaimanakah perasaan kita saat kita melihat seseorang ketika melepas sepatunya ternyata kaus kakinya berlubang karena rusak ‘bolong’ tepat dibawah tumit atau bolong terutama dibagian jempol? Masih pede-kah jika kita sendiri yang menggunakan kaus kaki yang bolong itu dan terlihat oleh orang lain?

Biarpun dipakainya di kaki dimana sebagian tertutup sepatu dan pakaian panjang, penampilan kaus kaki yang harum dan utuh ‘tidak bolong’ dapat sangat membantu ke-pede-an kita dalam beraktifitas.*

Film singkat Kauss kakki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.