semende1Bila berkunjung ke Palembang, Sumatera Selatan, lanjutkanlah perjalanan kalian menuju arah Barat Daya dan kunjungi Kabupaten Muara Enim. Jika mengunjungi Muara Enim sangatlah rugi jika tidak diteruskan ke area bebukitan di kawasan Bukit Barisan. Namanya saja sudah bukit, tentunya terbayang banyak pohon, berudara segar dan dingin. Itu baru satu bukit, bagaimana jika bukit itu berderet berbaris? Wow, pasti akan lebih indah dari yang dibayangkan!

Jika waktu itu kalian ikut sama saya, pasti kalian akan betah berada di tempat-tempat yang saya kunjungi. Saya dan teman-teman sangat menikmati keindahan alam saat mengunjungi beberapa tempat di kawasan yang berada di kecamatan-kecamatan Semende Darat Laut (SDL), Semende Darat Tengah (SDT), dan Semende Darat Ulu (SDU). Jarak tempuh dari kota Palembang menuju tiga Kecamatan tersebut sekitar delapan hingga sembilan jam via darat.

Dari area SDL hingga SDU banyak sekali pepohonan yang hidup diketinggian sekitar 800-1400 meter diatas permukaan laut. Udara disana bersih khas alam bebukitan yang memanjakan paru-paru. Sepanjang mata memandang disejukkan oleh banyak sekali views alam desa berupa rumah-rumah kayu yang khas, area kebun karet, pesawahan yang bertingkat-tingkat di lereng bebukitan, kebun-kebun kopi, aliran sungai deras berbatu, titik-titik sumber air panas, gemuruh air terjun, beragam kebun sayur-mayur, dan satu lagi yaitu area perkebunan stroberi.

Alam pedesaan dan udara dingin pegunungan sangat kental dan sangat terasa saat saya dan teman-teman memasuki area di ketiga kecamatan tersebut. Kami bersepuluh memasuki SDU dan akhirnya berlama-lama di desa Aremantai dan desa Siring Agung. Acara kami saat itu sederhana saja, main dan berlibur saat saudara-saudara kita yang umat Kristiani merayakan Natal 2016.

Acara kami disana antara lain jalan kaki nanjak-turun lihat-lihat alam desa dari dekat seperti menyentuh dinginnya air yang keluar dari celah bebatuan, foto bebek-bebek lucu yang mandi di seputaran air pematang sawah, makan siang di saung seorang kerabat, mancing di kolam yang dikelilingi sawah dan kebun kopi, kunjungi kebun sayur-mayur dan pada puncak acaranya kami memetik stroberi langsung dari pohonnya. Mmh, nikmatnya!

semende4Jika kalian mau ke area-area tersebut dan sekitarnya maka harus dijamin kendaraan yang kalian tumpangi dalam kondisi prima, baik sepeda motor maupun mobil. Jalanan menuju kesana selain ada yang sudah aspal ada juga jalanan yang masih tanah makadam. Selain itu, pengemudi harus mahir di daerah tanjakan dan turunan yang berkelok-kelok.  Pengemudi juga harus ekstra hati-hati karena jalanan yang dilalui tak jarang hanya selebar satu setengah kendaraan roda empat sementara kiri tebing dan kanan jurang atau sebaliknya.

Jangan lupa jika kalian mau ke area-area tersebut dan sekitarnya, bawalah bekal makanan ringan yang cukup, begitupun persediaan air. SDL, SDT dan SDU berudara dingin membuat kita sulit merasa haus namun penguapan air dari tubuh kita selalu terjadi, hindari dehidrasi coy! Mmmh, perlu diperhitungkan juga area-area tersebut kerap sekali turun hujan. Dingin sekali. Khusus yang mau bermalam disana, bawal mantel yaa… cuman mau nginap dimana? Gak ada hotel. Yang ada cuman rumah-rumah penduduk aja. Terakhir, jangan lupa bawa kamera, penting itu!

Saat itu kami bersepuluh terbagi menjadi dua group. Group pertama telah sampai desa Aremantai terlebih dahulu, disana disambut kerabat kami yang asli Aremantai, Arif Bin Rasdi. Group pertama tersebut diguide Arif menuju saung dan tiba disana sekitar jam 7 pagi.

Sekitar menjelang jam sebelas siang saya dan kawan-kawan di group kedua sampai dijalan aspal terakhir di area yang dituju, Arif sudah berdiri menunggu dipinggir jalan dimulut gang yang tak bisa dimasuki mobil. Kiri-kanan gang nampak ditumbuhi sedikit belukar. Kami memasuki gang tersebut.

Gang yang kami lewati bukanlah gang atau lorong seperti di perkotaan yang dijubeli para penghuni gang dan berbatas dinding-dinding rumah. Gang yang kami lewati ini dihimpit pepohonan yang beragam besarnya dengan iringan suara-suara alam. Suara-suara itu berupa gemerisik dedaunan diatas pohon, gemericik air dekat kaki-kaki kami, serta suara sesatoan kecil serangga dan kicauan burung-burung menemani kami berjalan. Jalan kaki kami sangat ringan karena perjalanan kami penuh keindahan.

Sesekali gonggongan anjing-anjing peliharaan yang dilepas bebas terdengar jelas meski jauh jaraknya dari kami. Kami melintasi pinggiran kebun kopi yang buahnya masih berwarna hijau. Buah-buah hijaunya itu seringkali menyentuh bahu-bahu kami saat kami melewatinya.

semende2Lepas dari kebun kopi kami memasuki jalan selebar sekitar satu meter, dimana sebelah kanan kami hutan sedangkan sebelah kiri kami adalah kolam air yang sepertinya tanpa ikan. Langkah kami dilanjutkan memasuki area pesawahan yang telah tertata rapi mungkin 1-2 bulan lagi siap untuk ditanami padi muda. Diatas air yang dikitari pematang sawah ada bebek-bebek hitam-putih sedang mandi sambil bercanda meliuk-liukkan lehernya sesekali menenggelamkan kepalanya ke dasar air kecoklatan menyosor lumpur sawah mengais cacing-cacing segar. Kami terus membidikkan kamera kami ke bebek-bebek itu. Bebek-bebek itu tak sekalipun merasa grogi ato salah tingkah didepan kamera-kamera kami.

Kami terus berjalan melewati gang yang kian sunyi sementara segerombolan anjing liar nampak dikejauhan sedang berlari menjauh dari kami sambil menggonggong dan terus menggonggong. Hutan bambu berbatang hijau kami lalui, lantas bangunan bata bercat putih berisi sebuah keranda jenazah kami lewati. Sunyi sekali.

Selepas keranda tadi langkah-langkah kami memasuki area pekuburan penduduk yang tak sebarapa luas. Kemudian kami lewati berumpun-rumpun bambu berbatang hitam dan kemudian kebun kopi lagi. Lelah.

Setelah memasuki jalan setapak yang benar-benar sempit karena terhimpit rumpun bambu berbatang kuning lantas kami melewati kebun kopi lagi. Kami menapak jalan menurun dan kemudian belok ke kiri memasuki area perkolaman yang luas dan ditengahnya ada sebuah saung. Saung itulah tujuan kami!

Teman-teman rombongan pertama telah menunggu di saung itu. Saung itu terbuat dari kayu dan merupakan bangunan panggung. Saung bagian bawah terbagi menjadi dua, sebagian tempat giling kopi skala rumahan dan sebagiannya kandang ayam dan bebek. Kami menapak tangga dan memasuki lantai atas.

JpegGroup pertama sambil menunggu kedatangan group dua nampaknya telah mempersiapkan makan siang. Makan siang yang mentahannya telah disiapkan ibunya Arif Bin Rasdi semalam. Menu menggugah selera untuk siang itu, siang yang tak ada matahari namun tak sedikitpun turun hujan. Aroma dari tungku berbahan bakar kayu bakar membuat tak sabar untuk segera makan.

Menu ayam kampung bakar, ayam buras goreng, bebek bakar, ikan asin, variasi lalapan dan sambal! Dengan piring yang hanya beralaskan daun pisang kami memulai makan siang berjamaah secara lesehan di atas lantai papan. Gak cuma saya, semua lahap! Finally …..kenyang buanget!!!

Setelah istirahat sehabis makan, canda tawa kami pindah ke kolam pancing. Usai solat dhuhur lantas kami semua dipandu Arif menuju area yang namanya 3-tower, disana area agrowisata perkebunan stroberi rupanya.

Kami bebas memetik buah-buah stroberi secara bebas. Seakan-akan kamilah pemiliknya. Kami semua sangat senang meski buah-buah stroberi yang telah kami petik harus ditimbang dan diganti dengan uang.

Banyak sekali keindahan di Semende namun saya bukanlah orang yang pandai dalam menuliskan cerita sebuah perjalanan, saya mencoba mengungkapkannya dalam video diatas. Silahkan lihat sendiri keindahan alam Semende.

Semende sungguh anggun dan cantik, Semende itu berhawa dingin dan menyenangkan, Semende betul-betul berkesan. Semende kami akan kembali lagi….mmmmuach!!!***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.